Kenalan dengan Usability yuk!

Pernah dengar istilah usability? atau apa yang pertama kali terlintas di kepala ketika mendengar istilah tersebut? Sesuatu apakah ini?

Saya coba bantu untuk jelaskan yah, jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia sih artinya kebergunaan atau daya guna. Beberapa term menjelaskan bahwa istilah usability ini ditemukan pada awal 1980-an untuk menggantikan istilah “user friendly” karena kesamaran makna (Bevan, Kirakowski, & Maissel, 1991).

Menurut ISO 9241–11 definisinya adalah “Usability: the extent to which a product can be used by specified users to achieve specified goals with effectiveness, efficiency and satisfaction in a specified context of use”.

Jika saya artikan usability ini sesuatu yang dapat diukur yang merupakan tingkatan dimana sebuah produk digunakan oleh pengguna untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif, efisien, dan sebagai timbal baliknya adalah kepuasaan dari penggunaanya sendiri. Secara singkat it’s easy to use bro!

Usability ini penting sekali diketahui sebagai kondisi suatu produk bisa survive. Misalnya dalam kehidupan berinternet sehari-hari pasti kita sering menemukan kegalauan seperti, “Ih ini website menunya sebelah mana yah?”, “Aduh nyari informasi kontak kok gak ada sih”, atau “Gimana cara gunain website ini siiiih!”.

Nah seperti itu biasanya pertanyaan yang timbul pada pengguna, otomatis akan mengurangi pengunjung website tersebut atau terlebih lagi meninggalkannya, walapun konten yang diberikan berkualitas loh.

Oleh karena itu diperlukan tindakan preventif untuk mengetahui sejauh mana website atau produk kita dapat digunakan dengan cara meng-improve usability ini. Biasanya dilakukan yang namanya user testing dimana memiliki 3 komponen dasar seperti berikut:

  • Kita memerlukan pengguna yang data mewakili (representatif), misalnya jika kita ingin menguji e-commerce maka yang kita gunakan pengguna e-commerce tersebut. Biasanya cukup dengan 5 orang pengguna merujuk pada penelitian yang sudah dilakukan Jakob Nielsen.
  • Mintalah pengguna tersebut untuk melakukan kebiasannya seperti biasa misalnya aksi dia melihat barang, aksi dia membeli, sampai aksi dia selesai untuk membayar.
  • Langkah terakhir, kita perlu memerhatikan apa yang dilakukan pengguna tadi, dari mulai aksi dia melihat barang sampai dia selesai untuk membayar. Catat kesulitan yang terlihat dan kemudahan yang ditampilkan oleh pengguna tersebut. Dan ingat! disini kita tidak boleh memberi tahu apapun yang akan dilakukan biarkan pengguna menjalankan website tersebut seperti biasa, shut up and let the users do the talking. Penting sekali kita tidak menginterupsi apa yang dilakukan pengguna karena itu bisa merusak hasil dari pengujian ini.

Dari hasil pengujian tersebut, kita dapat memahami ke arah mana produk kita akan dikembangkan dan juga dapat segera tanggap akan segala kekurangan yang dimiliki oleh produk kita tersebut.

Sampai disini secara garis besar paham kan sekarang siapa sih si usability ini tuh. Tapi ada pertanyaan lain nih, menurut kalian apakah usability sama dengan user experience? atau seperti apakah yang kalian maksud usability ini?

Oh yah omong-omong artikel ini saya sadur dari tulisan saya sebelumnya di Medium dan jika ada pertanyaan dan masukan lain terhadap artikel ini, silakan komentarnya 😀

Referensi:

  • Bevan, N., Kirakowski, J., & Maissel, J. (1991). What is Usabilty? 4thInternational Conference on HCI. Stuttgart.
  • ISO/IEC. (1998). ISO/IEC 9241–11: Ergonomic requirements for office work with visual. ISO/IEC 9241–11: 1998 (E).
  • Nielsen, J. (2015, April 26). Usability 101: Introduction to Usability. Diambil kembali dari Nielsen Norman Group: http://www.nngroup.com/articles/usability-101-introduction-to-usability/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *